Fenomena pendidikan di Indonesia sudah bukan lagi menjadi isu hangat, bahkan terkesan usang. “Ganti menteri ganti kurikuilum” juga menjadi jargon yang sepertinya muak didengarkan. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan sangat riskan apabila salah sistem. Waktu tak dapat diulang, sistem yang salah akan mendapatkan generasi yang salah pula, namun waktu tak dapat diulang, generasi yang terlanjur meneriman pendidikan yang salah tak dapat kembali ke zaman dulu untuk memperbaiki pendidikannya.

Pelajar Indonesia lebih sering tercap sebagai penerima konsep. Setiap hari tak pernah lepas dari ceramahan guru yang bercerita tantang ilmu pengetahuan. Namun tatkala sang pelajar dihadapkan pada kenyataan hidup yang sebenarnya, sang pelajar kalang kabut kebingungan. Sang pelajar hafal secara tekstual tentang ilmu pengetahuan, tapi buta dalam ketrampilan.

Tradisi sebegai penerima kosnep inilah yang harus dirubah. Tradisi penerima konsep sudah menjadi hal usang,  ketinggalan zaman, kuno atau apapun istilahnya. Tetapi anehnya, generasi penerima konsep masih terus diciptakan, sang guru memberi konsep setiap hari hingga sang pelajar hafal secara tekstual isi pelajaran. Namun tak diimbangi dengan ketrampilan hidup (life skill) yang memadai. Sang pelajar telah berlalu menjadi dewasa dan terjun ke masyarakat. Namun  sang pelajar telah menjadi negerasi penerima konsep yang usang. Tak siap menerima kemandirian, atau bahkan mungkin memandirikan orang lain.

Ibarat orang yang akan membuat apem. Sang guru menerangkan cara membuat apem yang enak dan empuk. Hanya diterangkan secara tekstual, mulai dari alat, bahan, cara pembuatan serta penyajiannya. Semua ditulis lengkap di papan tulis dan sang pelajar mencatatnya. Bahkan ada yang hafal catatannya. Namun apa yang terjadi ketika sang pelajar disuruh ibunya membuat apem ketika di rumah. Bisakah sang pelajar membuat apem yang rasanya enak dan empuk?

Sang pelajar hanya diberi teori membuat apem, bukan ketrampilan membuat apem. Teori yang bagus tapi tanpa diikuti ketrampilan apa bisa berhasil?

Yah, membaca cerita sang pelajar yang membuat apem diatas, menurut saya sang pelajar takkan bisa membuat apem yang rasanya enak dan empuk. Mungkin Anda bertanya kenapa??? Anda bisa membuktikannya sendiri. Belajar membuat apem tanpa praktek tak mungkin bisa berhasil, belajar dengan praktekpun belum tentu bisa sempurna, apalagi tanpa praktek sama sekali. Padahal praktek tersebut akan membentuk katrampilan membuat apem. Itulah akibat dari generasi penerima konsep.

Generasi penerima konsep inilah yang harus dirubah agar generasi selanjutnya lebih mandiri dan siap terjun ke masyarakat. Lalu bagaimana cara merubahnya?? Menganti generasi penerima konsep menjadi penemu konsep.

Generasi penemu konsep inilah yang nantinya akan menjadi generasi penerus yang inovatif. Pelajar tidak hanya diajari secara teoritis, tetapi juga diajari ketrampilah hidup atau life skill. Selain guru menerangkan secara tekstual, sang pelajar juga diajak untuk berfikir, berdiskusi menyesaikan masalah. Bahkan sang guru tak perlu menerangkan, tetapi sang pelajar hanya diberi kisi – kisi pembelajaran dan sang pelajar yang mencari pembahasan dan berdiskusi dengan guru dan teman yang lain. Pelajar diajak untuk belajar dengan alam. Melihat dan menemukan konsep melalui alam atau kejadian sekitar.

Menyambung contoh cerita diatas, belajar membuat apem tidak lagi diterangkan dengan papan tulis. Tetapi pelajar dan guru sama – sama memasak membuat apem. Melihat teori sebagai acuan dan mempraktekkan dengan tindakan. Membuat pengalaman dalam pembelajaran.

Mungkin Anda tak asing lagi dengan pribahasa “Pengalaman adalah Guru yang terbaik”. Yah, mengajak pelajar untuk mencari pengalaman dalam pembelajaran akan membuat generasi penerima konsep yang inovatif. Generasi yang mandiri dan memandirikan orang lain. Menjadi penerus mengisi pembangunan dalam persaingan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *